
Banyuwangi - Halaman Klenteng Tik Liong Tian di Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, Senin pagi, 11 Mei 2026, dipenuhi ribuan orang dari berbagai latar belakang. Ada tokoh agama, komunitas sosial, pelajar, pemuda lintas iman, hingga masyarakat umum yang datang membawa satu tujuan yang sama: merawat perdamaian dan memperkuat semangat toleransi di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.
Suasana penuh kebersamaan itu hadir dalam kegiatan Indonesia Walk for Peace 2026, sebuah perjalanan spiritual dan kemanusiaan yang menjadi simbol kuat persaudaraan lintas budaya maupun agama. Dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan Kabupaten Banyuwangi, Hj. Rr. Nanin Oktaviantie, mendampingi Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani melepas peserta perjalanan damai yang akan menempuh rute panjang dari Bali hingga Candi Borobudur.
Kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni pelepasan jalan kaki lintas daerah. Di tengah situasi sosial yang kerap diwarnai perbedaan pandangan, gesekan identitas, hingga polarisasi di ruang digital, Indonesia Walk for Peace hadir sebagai pengingat bahwa perdamaian harus terus dirawat melalui tindakan nyata dan ruang perjumpaan antarmanusia.
Sejak pagi, kawasan klenteng sudah dipadati peserta dan warga yang ingin menyaksikan langsung pelepasan rombongan. Relawan tampak sibuk mengatur jalannya kegiatan, sementara sejumlah aparat keamanan berjaga di titik tertentu untuk memastikan acara berlangsung tertib dan aman. Nuansa hangat terasa ketika peserta dari berbagai latar belakang saling menyapa dan berbaur tanpa sekat.
Di antara ribuan peserta, sekitar 50 bhikkhu dan umat Buddha menjadi bagian utama dalam perjalanan monumental tersebut. Mereka akan menempuh perjalanan spiritual sejauh kurang lebih 666 kilometer dari Bali menuju Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. Rute panjang itu akan melintasi sejumlah wilayah di Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Daerah Istimewa Yogyakarta.
Perjalanan itu bukan hanya ujian fisik, tetapi juga perjalanan batin yang sarat makna. Setiap langkah yang ditempuh menjadi simbol dedikasi dalam membawa pesan damai, kemanusiaan, dan persaudaraan di tengah keberagaman Indonesia.
Dalam sambutannya, Ipuk mengatakan Banyuwangi memiliki komitmen kuat menjaga nilai toleransi dan kerukunan sosial yang selama ini tumbuh di tengah masyarakat. Menurut dia, keberagaman yang dimiliki Banyuwangi merupakan kekuatan yang harus dirawat bersama.
“Kegiatan seperti ini penting untuk mempererat hubungan sosial masyarakat sekaligus mengingatkan bahwa perdamaian harus dijaga secara bersama-sama,” ujarnya.
Ipuk menilai Indonesia Walk for Peace bukan hanya membawa pesan spiritual, tetapi juga pesan sosial yang relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Di tengah dunia yang semakin mudah terpecah oleh perbedaan, ruang kebersamaan seperti ini dinilai menjadi sangat penting.
Sementara itu, Hj. Rr. Nanin Oktaviantie mengatakan kegiatan tersebut mencerminkan wajah Banyuwangi sebagai daerah yang terbuka dan menjunjung tinggi nilai persaudaraan. Menurut dia, keterlibatan masyarakat lintas agama dalam satu kegiatan bersama menunjukkan bahwa harmoni sosial di Banyuwangi masih terjaga dengan baik.
“Kita ingin menunjukkan bahwa Banyuwangi adalah rumah bersama bagi keberagaman. Semangat damai seperti ini harus terus tumbuh,” katanya.
Ia juga menilai kegiatan semacam ini memiliki dampak sosial yang besar karena mampu mempertemukan masyarakat dalam suasana yang lebih cair dan humanis. Menurutnya, perdamaian tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus diwujudkan melalui interaksi dan kebersamaan nyata di tengah masyarakat.
Pemilihan Klenteng Tik Liong Tian sebagai titik keberangkatan dinilai memiliki makna simbolik yang kuat. Rumah ibadah tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu simbol kerukunan dan toleransi di Banyuwangi. Dari tempat itu, pesan damai dilepas untuk melintasi berbagai daerah hingga mencapai salah satu pusat peradaban Buddhis terbesar di Indonesia, Candi Borobudur.
Sejumlah peserta mengaku terharu bisa menjadi bagian dari perjalanan damai tersebut. Rina, warga Rogojampi, mengatakan dirinya sengaja datang karena ingin menyaksikan langsung kegiatan yang menurutnya membawa energi positif bagi masyarakat.
“Sekarang orang gampang terpecah karena perbedaan. Kegiatan seperti ini penting supaya masyarakat kembali merasa dekat satu sama lain,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Ahmad Fauzi, peserta lain yang menilai Indonesia Walk for Peace menjadi contoh nyata bahwa keberagaman dapat dirawat melalui aktivitas sederhana namun penuh makna.
Menurut dia, perjalanan panjang para bhikkhu dan umat Buddha itu bukan hanya tentang berjalan kaki, melainkan tentang membawa harapan agar masyarakat Indonesia tetap menjaga nilai kemanusiaan dan toleransi.
Di sepanjang pelepasan peserta, warga tampak antusias mengabadikan momen menggunakan telepon genggam. Anak-anak kecil melambaikan tangan kepada rombongan peserta yang mulai bergerak meninggalkan kawasan klenteng. Sebagian peserta membawa poster bertuliskan pesan persaudaraan dan ajakan menjaga perdamaian.
Indonesia Walk for Peace 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar perjalanan spiritual lintas daerah. Kegiatan itu menjelma menjadi simbol bahwa di tengah dunia yang semakin bising oleh perbedaan, masih ada ribuan orang yang percaya bahwa perdamaian harus diperjuangkan bersama, selangkah demi selangkah. (Humas)