Konsistensi Fredi Bangun Kopi Syahdu

  28 April 2026

Banyuwangi - Di sebuah sudut Banyuwangi, aroma kopi robusta pernah nyaris berhenti menguar dari sebuah kedai sederhana. Di balik kisah itu, berdiri sosok Fredi Hadi Prianto, pria kelahiran Surabaya, 14 September 1978, yang memilih bertahan ketika usahanya sempat terhenti. Karib disapa Fredi, ia kini dikenal sebagai pelaku usaha kopi bubuk robusta sachet dengan merek “Kopi Syahdu”, sebuah nama yang mencerminkan suasana damai yang ingin ia hadirkan kepada penikmat kopinya.

Perjalanan Fredi tidak dimulai dengan rencana besar. Pada 2020, ia hanya berbekal kopi bubuk pemberian seorang teman. Dari sana, ia memberanikan diri menyuntikkan modal Rp 15 juta. Dana itu digunakan untuk menyewa lokasi usaha, membeli bahan baku kopi robusta, serta menyediakan aneka makanan ringan di kedainya. Setiap hari, sepulang bekerja di sebuah perusahaan swasta, ia membuka kedai dari pukul 17.00 hingga 23.00 WIB, menyajikan kopi bersama pisang goreng, tahu petis, dan mi goreng.

Namun, ritme itu tidak mudah dijalani. Bekerja penuh waktu di siang hari, lalu berjualan hingga malam, menguras tenaga. Pada titik tertentu, Fredi harus menghadapi kenyataan pahit: usahanya berhenti. Kedai yang semula hidup perlahan sepi, bukan karena tidak ada pelanggan, melainkan karena ia kehabisan energi untuk menjalankannya.

Momen itulah yang menjadi titik terendah sekaligus awal perubahan. Alih-alih menyerah, Fredi justru menemukan ide baru dari sisa bahan baku yang tersisa. Pada 2024, ia melihat dua kilogram kopi yang belum terpakai. Dari situlah muncul pertanyaan sederhana: bagaimana jika kopi ini dikemas ulang dan dipasarkan secara praktis ?

Fredi kemudian mencoba mengemas kopi tersebut dalam bentuk sachet. Ia tidak langsung menargetkan pasar luas. Sebaliknya, ia memulai dari lingkaran terdekat—teman dan relasi yang sudah ia kenal. Cara ini membuat pemasaran terasa lebih personal sekaligus fleksibel, menyesuaikan waktu yang ia miliki.

Strategi itu berkembang seiring waktu. Fredi memanfaatkan jejaring pertemanannya untuk memperkenalkan produknya, termasuk melalui berbagai kegiatan sosial. Ia kerap memfasilitasi acara seperti sosialisasi HIV dan narkoba dengan menyediakan tempat dan kopi gratis. Langkah ini bukan semata promosi, melainkan bentuk keterlibatan sosial yang memperluas jangkauan produknya secara alami.

Kedainya juga menjadi ruang pertemuan berbagai komunitas, mulai dari komunitas motor, mobil, hingga jejaring media sosial. Di tempat itu, kopi tidak hanya dinikmati sebagai minuman, tetapi juga sebagai medium kebersamaan. Sebagian kegiatan digelar secara berbayar, sebagian lainnya gratis, terutama untuk kegiatan sosial. Fredi dengan cermat memilah setiap kesempatan, menjaga keseimbangan antara bisnis dan relasi.

Perlahan, strategi berbasis relasi ini membuahkan hasil. “Kopi Syahdu” mulai dikenal. Nama itu dipilih bukan tanpa alasan. Fredi ingin menghadirkan pengalaman minum kopi yang tenang, sederhana, namun berkesan di kediamannya di Dusun Kalimati, Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar. Produk kopinya pun dikemas lebih rapi, dalam bentuk kotak berisi 10 sachet, dengan harga berkisar Rp 45 ribu hingga Rp 80 ribu.

Seiring berkembangnya usaha, Fredi juga mulai mendapatkan pendampingan legalitas. Ia mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB), Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT), hingga sertifikasi halal. Dukungan dari pemerintah daerah melalui dinas terkait membuat proses ini terasa lebih mudah dan cepat. Legalitas tersebut menjadi fondasi penting untuk memperluas pasar.

Kini, “Kopi Syahdu” tidak hanya beredar di Banyuwangi. Produk itu telah menjangkau sejumlah kota seperti Surabaya, Bali, Malang, Mojokerto, Tangerang, hingga Bekasi. Pemasaran dilakukan dengan cara sederhana namun konsisten—bertemu langsung dengan pelanggan, mengikuti kegiatan komunitas, hingga memanfaatkan jejaring pertemanan.

Bagi Fredi, konsistensi adalah kunci. Ia menyadari bahwa usaha kecil tidak selalu membutuhkan strategi besar, tetapi membutuhkan ketekunan yang terus dijaga. Dalam kesehariannya, ia tetap aktif melakukan pemasaran langsung, bahkan ketika menghadiri acara di luar kota. Setiap pertemuan menjadi peluang untuk memperkenalkan produknya.

Perjalanan Fredi juga tidak lepas dari dukungan orang-orang terdekat. Dua rekannya, Novian dan Danny, menjadi sosok yang terus mendorongnya untuk lebih percaya diri dalam menjalankan usaha. Dukungan itu menjadi energi tambahan ketika ia sempat ragu terhadap langkah yang diambil.

Meski demikian, Fredi tetap melihat perjalanan ini sebagai proses yang belum selesai. Ia berharap usahanya dapat memberikan dampak lebih luas, terutama bagi lingkungan sekitar. Salah satu cita-citanya adalah melibatkan masyarakat sekitar sebagai bagian dari usaha, membuka peluang kerja, sekaligus menekan angka pengangguran.

Ia juga menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam mendampingi pelaku usaha mikro. Menurutnya, banyak pelaku usaha yang masih membutuhkan pengetahuan tentang manajemen bisnis dan strategi pemasaran. Tanpa itu, produk yang baik sering kali hanya dipasarkan seadanya, tanpa mampu bersaing secara maksimal.

Di sisi lain, Fredi menitipkan pesan kepada generasi muda yang masih ragu memulai usaha. Baginya, kunci utama adalah keberanian untuk mencoba. Rasa optimistis, kata dia, sering kali menjadi pintu awal dari berbagai peluang yang tidak terduga.

Kini, meski omzet usahanya masih berkisar Rp 2 juta per bulan pada 2026, Fredi tidak melihat angka itu sebagai batas. Ia justru memandangnya sebagai pijakan untuk terus bertumbuh. Dari dua kilogram kopi yang sempat tersisa, lahir sebuah usaha yang perlahan menemukan jalannya.

Di tengah persaingan yang kian ketat, Fredi memilih bertahan dengan caranya sendiri—membangun relasi, menjaga kualitas, dan tetap konsisten. Dari kedai sederhana hingga kemasan sachet yang menjangkau berbagai kota, “Kopi Syahdu” menjadi bukti bahwa usaha kecil pun bisa tumbuh, selama ada keyakinan untuk terus melangkah. (Humas)

Find Us ( Diskop Usaha Mikro )
Find Us ( Banyuwangi_Mall )