Kolaborasi Besar Angkat Daya Saing UMKM

  04 Mei 2026

Banyuwangi - Ruang kerja Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan Kabupaten Banyuwangi, Senin, 4 Mei 2026, menjadi ruang temu yang tidak sekadar formalitas. Di sana, gagasan dipertukarkan, arah dirumuskan, dan kolaborasi mulai dibangun. Rr. Nanin Oktaviantie menerima kunjungan jajaran InJourney Airports dalam pertemuan yang menandai penguatan kemitraan lintas sektor untuk mendorong pelaku usaha mikro naik kelas.

Didampingi Kepala Bidang Usaha Mikro, Sri Lestari—yang akrab disapa Cicik—Nanin membuka diskusi dengan satu fokus utama: peningkatan kapasitas sumber daya manusia pelaku usaha mikro. Bagi Banyuwangi, UMKM bukan sekadar pelengkap ekonomi daerah, melainkan tulang punggung yang menopang pergerakan ekonomi masyarakat.

Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat, namun sarat substansi. Berbagai peluang kolaborasi dibedah, terutama terkait program pelatihan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan pasar. Tidak lagi sekadar pelatihan teknis dasar, melainkan pelatihan yang mampu menjawab tantangan baru—standar kualitas, pelayanan, hingga kesiapan memasuki pasar yang lebih luas.

Dalam konteks ini, kehadiran InJourney Airports menjadi signifikan. Sebagai pengelola bandara, perusahaan ini memiliki pengalaman dalam menjaga standar layanan, kualitas produk, dan manajemen operasional yang ketat. Pengalaman tersebut dinilai dapat menjadi referensi berharga bagi pelaku usaha mikro di Banyuwangi yang ingin menembus pasar yang lebih kompetitif, termasuk sektor pariwisata dan transportasi udara.

“Pelaku usaha kita harus siap tidak hanya di pasar lokal, tetapi juga ketika masuk ke ekosistem yang lebih besar,” ujar Nanin dalam diskusi. Pernyataan itu menegaskan bahwa orientasi pengembangan UMKM di Banyuwangi tidak lagi berhenti pada bertahan, tetapi bergerak menuju ekspansi.

Diskusi mengarah pada penyusunan program pelatihan terpadu. Program ini diharapkan mencakup berbagai aspek, mulai dari peningkatan kualitas produk, pengemasan, hingga pelayanan pelanggan. Selain itu, aspek branding dan pemasaran juga menjadi perhatian, mengingat persaingan pasar yang semakin ketat.

Sri Lestari menambahkan, banyak pelaku usaha mikro memiliki potensi yang besar, namun belum sepenuhnya terfasilitasi. “Mereka punya produk bagus, tapi belum tentu siap masuk ke pasar yang lebih luas. Di sinilah pelatihan yang tepat menjadi penting,” ujarnya.

Kemitraan ini juga membuka peluang transfer pengetahuan secara langsung. Tidak hanya melalui pelatihan formal, tetapi juga melalui praktik terbaik (best practices) yang selama ini diterapkan dalam pengelolaan layanan di lingkungan bandara. Dengan demikian, pelaku usaha mikro dapat belajar dari standar yang sudah teruji.

Banyuwangi sendiri memiliki modal kuat dalam pengembangan UMKM. Pertumbuhan sektor pariwisata yang pesat menjadi peluang besar bagi pelaku usaha lokal untuk memperluas pasar. Produk-produk lokal, mulai dari kuliner hingga kerajinan, memiliki potensi untuk menjadi bagian dari rantai nilai pariwisata yang lebih luas.

Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan jika pelaku usaha memiliki kesiapan yang memadai. Standar kualitas, konsistensi produk, hingga pelayanan menjadi faktor penentu. Tanpa itu, sulit bagi produk lokal untuk bersaing, apalagi menembus pasar yang lebih luas.

Di sinilah kemitraan strategis menemukan urgensinya. Pemerintah daerah tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak yang memiliki pengalaman dan kapasitas berbeda. InJourney Airports, dengan jaringan dan pengalamannya, menjadi salah satu mitra potensial dalam upaya tersebut.

Pertemuan ini juga mencerminkan perubahan pendekatan dalam pengembangan UMKM. Jika sebelumnya lebih banyak bertumpu pada bantuan dan pendampingan dasar, kini mulai bergeser ke arah penguatan kapasitas dan daya saing. Fokusnya bukan lagi sekadar jumlah pelaku usaha, tetapi kualitas dan keberlanjutan usaha itu sendiri.

Menjelang akhir pertemuan, satu kesepahaman mulai terbentuk: bahwa kolaborasi ini harus ditindaklanjuti dengan langkah konkret. Program pelatihan yang dirancang harus benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan, bukan sekadar memenuhi target administratif.

Dari ruang kerja yang sederhana itu, arah baru mulai dirintis. Bahwa pelaku usaha mikro Banyuwangi tidak hanya didorong untuk tumbuh, tetapi juga dipersiapkan untuk bersaing di level yang lebih tinggi. Kemitraan strategis ini menjadi jembatan—menghubungkan potensi lokal dengan standar global.

Pada akhirnya, keberhasilan kolaborasi ini akan diukur dari dampaknya. Seberapa jauh pelaku usaha mampu meningkatkan kualitas produknya, memperluas pasar, dan memperkuat daya saing. Namun yang pasti, langkah awal telah diambil. Dan dari langkah itulah, perubahan besar sering kali bermula. (Humas)

Find Us ( Diskop Usaha Mikro )
Find Us ( Banyuwangi_Mall )