Kartini Bergerak Dorong Kesehatan Ibu

  03 Mei 2026

Banyuwangi - Suasana Aula Pendopo Sabha Swagata, Banyuwangi, Minggu pagi, 3 Mei 2026, terasa berbeda dari biasanya. Ribuan warga memadati lokasi sejak pagi hari, menghadirkan energi kolektif yang tak sekadar merayakan Hari Kartini, tetapi juga menegaskan arah baru gerakan perempuan di tingkat daerah. Momentum ini menjadi ruang temu antara semangat emansipasi dan komitmen nyata terhadap isu kesehatan ibu.

Usai menghadiri peluncuran keringanan retribusi pasar, Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, kembali melanjutkan agenda dengan memimpin rangkaian jalan sehat bersama masyarakat. Ia didampingi Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan Kabupaten Banyuwangi, Hj. Rr. Nanin Oktaviantie, yang terus mengikuti setiap tahapan kegiatan sebagai bentuk dukungan lintas sektor.

Kegiatan jalan sehat ini bukan sekadar rutinitas seremonial. Di balik langkah kaki peserta, terselip pesan kuat tentang pentingnya menjaga kesehatan perempuan sebagai fondasi pembangunan. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan deklarasi gerakan bersama penurunan angka kematian ibu (AKI), yang menjadi perhatian serius pemerintah pusat maupun daerah.

Dalam arahannya, Ipuk menegaskan bahwa upaya menekan angka kematian ibu tidak bisa dilakukan secara parsial. Ia membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari tenaga kesehatan, pemerintah daerah, hingga masyarakat itu sendiri. Edukasi menjadi kunci, begitu pula akses layanan kesehatan yang merata dan berkualitas.

“Perempuan harus sehat, karena dari merekalah lahir generasi masa depan. Ini bukan hanya isu kesehatan, tetapi masa depan daerah,” ujarnya di hadapan peserta.

Pernyataan tersebut disambut antusias oleh masyarakat yang hadir. Banyak di antara mereka datang bersama keluarga, menunjukkan bahwa isu kesehatan ibu telah menjadi perhatian bersama. Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkuat kesadaran kolektif bahwa pencegahan jauh lebih penting daripada penanganan.

Hadir mewakili Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Asisten Pemerintahan Provinsi Jawa Timur menyampaikan dukungan penuh terhadap gerakan ini. Ia menekankan bahwa sinergi antara pemerintah provinsi dan kabupaten menjadi faktor penting dalam memastikan program berjalan efektif di lapangan.

Sementara itu, Sekretaris Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia yang hadir mewakili Menteri PPA memberikan perspektif nasional. Ia menyebut bahwa penurunan angka kematian ibu merupakan salah satu indikator penting dalam pembangunan manusia. Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor harus terus diperkuat.

“Gerakan seperti ini menunjukkan bahwa daerah memiliki peran strategis dalam mendorong perubahan. Ketika semua pihak bergerak bersama, percepatan penurunan AKI bukan hal yang mustahil,” ujarnya.

Di tengah fokus pada isu kesehatan, peran sektor ekonomi juga tidak luput dari perhatian. Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan, Nanin Oktaviantie, menilai bahwa pemberdayaan ekonomi perempuan melalui UMKM memiliki keterkaitan langsung dengan kualitas hidup keluarga, termasuk kesehatan ibu.

Menurutnya, perempuan yang memiliki kemandirian ekonomi cenderung lebih mampu mengakses layanan kesehatan, memenuhi kebutuhan gizi, dan mengambil keputusan penting dalam keluarga. Karena itu, penguatan UMKM perempuan menjadi bagian integral dari strategi pembangunan yang berkelanjutan.

“Ketika perempuan berdaya secara ekonomi, dampaknya akan terasa hingga ke aspek kesehatan keluarga. Ini saling terhubung,” ujarnya.

Pendekatan yang mengintegrasikan aspek kesehatan dan ekonomi ini menjadi ciri khas kebijakan di Banyuwangi. Pemerintah daerah tidak hanya fokus pada satu sektor, tetapi membangun ekosistem yang saling mendukung. Dari pasar rakyat hingga layanan kesehatan, semuanya diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Momentum Hari Kartini tahun ini pun menjadi lebih bermakna. Ia tidak berhenti pada simbol atau seremoni, tetapi menjelma menjadi gerakan nyata yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Jalan sehat yang digelar menjadi simbol sederhana dari gerak bersama, sementara deklarasi penurunan AKI menjadi komitmen yang lebih substansial.

Bagi masyarakat Banyuwangi, kegiatan ini menghadirkan harapan baru. Bahwa perhatian terhadap kesehatan ibu tidak hanya menjadi wacana, tetapi diwujudkan melalui langkah konkret. Bahwa perempuan tidak hanya diperingati, tetapi juga diperjuangkan kualitas hidupnya.

Di akhir acara, suasana tetap terasa hangat. Warga berbaur, berbincang, dan membawa pulang pesan yang sama: bahwa perubahan dimulai dari kesadaran bersama. Pemerintah telah membuka jalan, kini giliran masyarakat untuk turut berjalan.

Kartini di Banyuwangi hari ini bukan hanya dikenang. Ia dihidupkan dalam gerakan, diperkuat dalam kebijakan, dan diwujudkan dalam kolaborasi. Dari Pendopo Sabha Swagata, pesan itu menggema—bahwa perempuan adalah pilar, dan kesehatan mereka adalah fondasi masa depan. (Humas)

Find Us ( Diskop Usaha Mikro )
Find Us ( Banyuwangi_Mall )