
Banyuwangi - Penguatan pelaku usaha kecil dan menengah kembali menjadi perhatian di Banyuwangi. Di tengah persaingan usaha yang semakin ketat dan perubahan pasar yang bergerak cepat, para pelaku industri kecil menengah dan usaha mikro dinilai membutuhkan lebih dari sekadar pendampingan. Mereka membutuhkan ruang bersama, jejaring kuat, dan organisasi yang mampu menjadi penghubung antara usaha rakyat dengan peluang pasar yang lebih luas.
Semangat itu mengemuka dalam rangkaian pelantikan pengurus Asosiasi Akrab sebagai induk asosiasi IKM dan UKM Banyuwangi periode 2026–2028 yang digelar di Aula Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan Kabupaten Banyuwangi, Rabu, 20 Mei 2026.
Suasana aula terlihat hidup sejak pagi. Sejumlah pelaku usaha dari berbagai sektor hadir mengikuti kegiatan tersebut. Mulai dari pengusaha kuliner, kerajinan tangan, fesyen lokal, hingga pelaku usaha berbasis produk kreatif tampak memenuhi ruangan dengan harapan baru tentang penguatan usaha bersama.
Pelantikan pengurus baru Asosiasi Akrab bukan sekadar agenda seremonial organisasi. Di tengah tantangan ekonomi yang terus berubah, keberadaan asosiasi usaha mulai dipandang sebagai kebutuhan penting untuk memperkuat daya tahan pelaku UMKM di daerah.
Kegiatan itu turut dihadiri Kepala Bidang Usaha Mikro pada Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan Kabupaten Banyuwangi, Sri Lestari, bersama stafnya. Kehadiran pemerintah daerah dinilai menjadi bentuk dukungan nyata terhadap penguatan jejaring usaha mikro, kecil, dan menengah di Banyuwangi.
Dalam forum tersebut, Asosiasi Akrab disebut memiliki posisi strategis sebagai wadah besar yang menyatukan berbagai komunitas dan pelaku usaha lokal. Melalui organisasi itu, para pelaku usaha diharapkan tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan bergerak dalam kekuatan kolektif yang lebih terarah.
Sri Lestari mengatakan, penguatan organisasi usaha menjadi salah satu langkah penting dalam membangun ekosistem UMKM yang sehat dan berkelanjutan. Menurut dia, tantangan yang dihadapi pelaku usaha saat ini tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga menyangkut pemasaran, inovasi, hingga kemampuan membaca perubahan pasar.
“Pelaku usaha membutuhkan ruang jejaring yang kuat agar bisa berkembang bersama. Kolaborasi menjadi penting supaya UMKM lebih adaptif dan memiliki daya saing,” ujarnya.
Ia menilai, keberadaan asosiasi mampu membuka peluang kerja sama antar pelaku usaha sekaligus memperkuat komunikasi dengan pemerintah daerah. Dengan jaringan yang lebih luas, pelaku usaha diharapkan lebih mudah mendapatkan akses pelatihan, promosi produk, hingga peluang pemasaran yang lebih besar.
Di tengah perkembangan ekonomi digital dan perubahan pola konsumsi masyarakat, banyak pelaku usaha kecil menghadapi tantangan untuk tetap bertahan. Tidak sedikit usaha mikro yang masih kesulitan memperluas pasar karena keterbatasan promosi, minimnya akses informasi, hingga lemahnya penguatan organisasi.
Karena itu, pelantikan pengurus Asosiasi Akrab dinilai menjadi momentum penting untuk membangun arah baru pengembangan UMKM Banyuwangi.
Dalam sambutannya, sejumlah pihak menyoroti pentingnya membangun solidaritas antar pelaku usaha lokal. Persaingan pasar yang semakin terbuka menuntut pelaku usaha untuk lebih kreatif, inovatif, dan cepat beradaptasi terhadap kebutuhan konsumen.
Tidak hanya fokus pada pengembangan produk, pelaku UMKM juga dituntut mampu memperkuat identitas usaha dan membangun jaringan pasar yang lebih luas. Di sinilah peran asosiasi dianggap penting sebagai ruang konsolidasi bersama.
Selain menjadi wadah komunikasi, asosiasi juga diharapkan mampu menjadi motor penggerak pembinaan usaha. Mulai dari peningkatan kualitas produk, penguatan legalitas usaha, pengembangan desain kemasan, hingga perluasan akses pasar digital menjadi tantangan yang perlu dijawab secara bersama-sama.
Di Banyuwangi sendiri, sektor UMKM selama ini menjadi salah satu tulang punggung ekonomi daerah. Ribuan pelaku usaha bergerak di berbagai sektor mulai dari makanan olahan, kerajinan, fesyen, hingga industri kreatif berbasis budaya lokal.
Namun di balik potensinya, banyak pelaku usaha kecil masih membutuhkan penguatan agar mampu naik kelas. Karena itu, sinergi antara pemerintah daerah, asosiasi usaha, dan komunitas pelaku UMKM dipandang menjadi kunci penting dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
Pelantikan pengurus Asosiasi Akrab periode 2026–2028 juga membawa harapan baru bagi pelaku usaha lokal agar memiliki ruang perjuangan yang lebih terstruktur. Organisasi tersebut diharapkan tidak hanya aktif dalam kegiatan seremonial, tetapi benar-benar hadir sebagai jembatan kebutuhan pelaku usaha di lapangan.
Di penghujung acara, suasana kebersamaan terlihat kuat di antara para peserta. Percakapan tentang peluang usaha, tantangan pasar, hingga rencana kolaborasi baru terdengar di berbagai sudut aula.
Dari ruang sederhana itu, Banyuwangi kembali menegaskan bahwa penguatan ekonomi rakyat tidak cukup dibangun dengan program semata. Ia membutuhkan kebersamaan, solidaritas, dan organisasi yang mampu menjaga semangat tumbuh bersama.
Bagi para pelaku usaha kecil di Banyuwangi, pelantikan itu bukan hanya tentang pergantian pengurus. Lebih dari itu, ia menjadi simbol harapan bahwa usaha lokal tetap memiliki ruang untuk berkembang, bertahan, dan bersaing di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat. (humas)