Serat Abaca Banyuwangi Menuju Dunia

  19 Mei 2026

Banyuwangi - Hamparan hijau perkebunan di lereng Kecamatan Songgon, Banyuwangi, perlahan mulai dilirik pasar internasional. Dari Desa Bayu Lor, harapan baru tumbuh lewat komoditas pisang abaca, tanaman penghasil serat alam yang kini disebut-sebut memiliki peluang besar menembus industri fesyen ramah lingkungan dunia.

Selasa, 19 Mei 2026, Kepala Bidang Usaha Mikro pada Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan Kabupaten Banyuwangi, Sri Lestari, kembali mendampingi kunjungan sejumlah buyer potensial asal Jepang ke kawasan perkebunan abaca di Desa Bayu Lor. Kunjungan tersebut menjadi yang kedua kalinya dilakukan dalam beberapa waktu terakhir dan menandai keseriusan pembicaraan kerja sama dagang antara pelaku usaha lokal dengan calon mitra luar negeri.

Suasana kunjungan berlangsung hangat di tengah bentang alam hijau khas kaki pegunungan Songgon. Para buyer tampak meninjau langsung kualitas tanaman, proses pengolahan awal serat, hingga mendengarkan penjelasan mengenai potensi pengembangan produk turunan abaca yang selama ini mulai diminati pasar global.

Tidak sekadar melihat hasil perkebunan, rombongan juga memperhatikan karakter serat yang dihasilkan Banyuwangi. Serat abaca dikenal memiliki kekuatan tinggi, lentur, ringan, dan tahan lama. Karakter tersebut membuatnya banyak digunakan sebagai bahan baku berbagai produk premium, mulai dari tas fesyen, dompet, aksesori, kerajinan tangan, hingga material ramah lingkungan pengganti bahan sintetis.

Di pasar internasional, tren penggunaan produk berbahan alami dan berkelanjutan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Negara-negara maju mulai mencari alternatif material yang lebih ramah lingkungan untuk mendukung industri hijau. Dalam konteks itulah, abaca Banyuwangi dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang.

Sri Lestari mengatakan bahwa kunjungan kedua buyer Jepang kali ini menunjukkan adanya peningkatan ketertarikan terhadap komoditas abaca dari Banyuwangi. Menurut dia, pembahasan kerja sama tidak lagi berada pada tahap pengenalan awal, melainkan sudah masuk dalam fase negosiasi kualitas atau grade serat yang dibutuhkan pasar.

“Buyer melihat langsung kualitas serat yang dihasilkan di Bayu Lor. Mereka tertarik karena seratnya dinilai lebih panjang dan kualitasnya lebih baik,” ujar Sri Lestari di sela kegiatan.

Menurut dia, kualitas menjadi faktor penting dalam pasar ekspor serat abaca. Panjang serat, tingkat kekuatan, warna, hingga proses pengeringan menjadi aspek yang sangat diperhatikan calon pembeli luar negeri. Karena itu, pemerintah daerah bersama kelompok pelaku usaha mikro terus melakukan pendampingan agar kualitas produksi tetap terjaga dan mampu memenuhi standar pasar internasional.

Kunjungan tersebut juga dihadiri sejumlah pejabat tinggi terkait sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan komoditas unggulan baru Banyuwangi. Kehadiran berbagai pihak itu dinilai penting untuk memastikan kesiapan rantai produksi, keberlanjutan budidaya, hingga potensi pengembangan hilirisasi produk berbasis abaca di daerah.

Selama ini, pisang abaca memang belum sepopuler komoditas perkebunan lain di Indonesia. Namun tanaman ini mulai mendapat perhatian karena memiliki nilai ekonomi tinggi. Selain dapat tumbuh baik di kawasan tropis, abaca juga memiliki pasar yang terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan industri berbahan alami.

Di Bayu Lor, tanaman abaca perlahan menjadi sumber harapan baru bagi masyarakat. Sejumlah petani mulai melihat komoditas tersebut sebagai peluang usaha jangka panjang yang menjanjikan. Apalagi, permintaan pasar luar negeri terhadap serat berkualitas disebut terus meningkat.

Tidak hanya berhenti pada penjualan bahan mentah, Banyuwangi juga mulai membidik pengembangan produk olahan berbasis serat abaca. Pelaku usaha mikro diharapkan mampu menghasilkan produk bernilai tambah yang dapat bersaing di pasar nasional maupun internasional.

Produk seperti tas handmade, aksesori fesyen, hingga kerajinan dekoratif berbahan serat alami dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang di tengah tren gaya hidup ramah lingkungan. Dengan sentuhan desain kreatif dan penguatan kualitas produksi, produk lokal Banyuwangi berpotensi menjadi bagian dari rantai industri hijau global.

Bagi Banyuwangi, peluang ekspor abaca bukan sekadar soal perdagangan. Lebih dari itu, komoditas tersebut dipandang mampu membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat desa, memperluas kesempatan usaha mikro, serta memperkuat posisi daerah dalam peta industri kreatif berbasis sumber daya alam.

Di tengah persaingan pasar global yang semakin ketat, Bayu Lor kini mencoba membuktikan bahwa desa kecil di lereng pegunungan pun dapat menjadi titik awal lahirnya komoditas dunia. Dari serat-serat panjang tanaman abaca, harapan tentang ekonomi hijau, usaha berkelanjutan, dan masa depan pelaku usaha lokal perlahan mulai dirajut menuju pasar internasional. (Humas)

Find Us ( Diskop Usaha Mikro )
Find Us ( Banyuwangi_Mall )