
Banyuwangi - Upaya mendorong inovasi produk ramah lingkungan terus diperkuat Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Salah satunya melalui workshop pemanfaatan sabut kelapa sebagai bahan kemasan berkelanjutan hasil kolaborasi dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Selasa (26/5/2026).
Kegiatan yang digelar di Banyuwangi itu menjadi ruang pertemuan antara dunia akademik, pemerintah, dan pelaku UMKM untuk membahas masa depan industri kemasan ramah lingkungan berbasis sumber daya lokal. Workshop dibuka langsung oleh Plt Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan Kabupaten Banyuwangi, Suratno, didampingi Kabid Usaha Mikro Sri Lestari beserta jajaran staf dinas.
Puluhan pelaku UMKM yang bergerak di sektor olahan kelapa dan produk kreatif berbasis lingkungan tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut. Tidak hanya mendapatkan materi teori, para peserta juga diperkenalkan pada berbagai inovasi kemasan biodegradable berbahan dasar sabut kelapa yang dinilai memiliki prospek besar di pasar modern.
Dalam sambutannya, Suratno menegaskan bahwa Banyuwangi memiliki potensi besar sebagai daerah penghasil kelapa. Namun selama ini, sebagian limbah kelapa seperti sabut masih belum dimanfaatkan secara optimal dan sering berakhir menjadi sampah atau dibakar begitu saja.
Padahal, menurutnya, di tengah meningkatnya kesadaran global terhadap isu lingkungan, limbah sabut kelapa justru bisa menjadi komoditas bernilai tinggi apabila diolah dengan inovasi dan pendekatan teknologi yang tepat.
“Sabut kelapa yang selama ini sering dianggap limbah, ternyata memiliki peluang besar menjadi bahan kemasan ramah lingkungan yang bernilai ekonomi. Ini menjadi kesempatan baik bagi UMKM Banyuwangi untuk berkembang,” ujar Suratno.
Ia menambahkan, tren pasar dunia saat ini mulai bergerak menuju penggunaan produk-produk berkelanjutan sebagai bagian dari upaya mengurangi sampah plastik sekali pakai. Karena itu, pemerintah daerah mendorong pelaku UMKM agar tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga mulai memikirkan inovasi kemasan yang memiliki nilai tambah sekaligus ramah lingkungan.
Workshop tersebut merupakan bagian dari diseminasi hasil penelitian ITS bersama University College London terkait pengembangan biodegradable packaging berbahan sabut kelapa. Penelitian itu berupaya menghadirkan alternatif kemasan alami yang mudah terurai dan mampu menggantikan dominasi bahan plastik konvensional.
Dalam sesi pemaparan, tim peneliti menjelaskan bahwa serat sabut kelapa memiliki karakteristik kuat, ringan, dan mudah dibentuk sehingga berpotensi digunakan untuk berbagai kebutuhan kemasan produk. Selain itu, material alami tersebut juga dinilai lebih aman bagi lingkungan karena dapat terurai secara alami dalam waktu relatif singkat.
Bagi pelaku UMKM, inovasi tersebut membuka peluang usaha baru yang cukup menjanjikan. Sebab saat ini banyak konsumen, terutama pasar ekspor dan industri modern, mulai memberi perhatian serius terhadap aspek keberlanjutan dalam sebuah produk, termasuk pada kemasan yang digunakan.
Kabid Usaha Mikro Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan Kabupaten Banyuwangi, Sri Lestari, mengatakan kegiatan seperti ini penting untuk memperluas wawasan pelaku usaha agar lebih adaptif terhadap perkembangan pasar global.
Menurutnya, UMKM tidak bisa lagi hanya mengandalkan produk yang bagus, tetapi juga harus mampu menjawab tuntutan konsumen terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan.
“Pasar sekarang mulai mengarah pada produk yang ramah lingkungan. Maka pelaku usaha juga harus mampu mengikuti perkembangan tersebut agar tetap kompetitif,” kata Sri Lestari.
Ia berharap workshop tersebut menjadi langkah awal lahirnya berbagai inovasi baru dari tangan pelaku UMKM Banyuwangi. Terlebih Banyuwangi memiliki sumber daya alam melimpah yang dapat diolah menjadi produk kreatif bernilai ekonomi tinggi.
Selain memperkuat daya saing usaha mikro, pemanfaatan sabut kelapa juga dinilai mampu mendukung upaya pengurangan limbah lingkungan. Selama ini, limbah sabut sering kali tidak memiliki nilai ekonomi sehingga keberadaannya kurang dimanfaatkan masyarakat.
Melalui pendekatan ekonomi hijau, limbah tersebut justru dapat diubah menjadi produk produktif yang membuka peluang usaha sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
Suasana workshop berlangsung interaktif. Para peserta tampak aktif berdiskusi mengenai peluang produksi, teknik pengolahan, hingga potensi pemasaran produk berbasis sabut kelapa. Sejumlah peserta bahkan mengaku tertarik mengembangkan inovasi serupa untuk mendukung usaha yang telah mereka jalankan.
Kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi seperti ini dinilai penting untuk mempercepat transfer pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat. Dengan begitu, hasil riset tidak hanya berhenti di ruang akademik, tetapi benar-benar mampu memberi dampak nyata terhadap pengembangan ekonomi lokal.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berharap semakin banyak inovasi berbasis potensi daerah yang mampu dikembangkan pelaku UMKM. Tidak hanya memperkuat ekonomi masyarakat, tetapi juga mendorong Banyuwangi menjadi daerah yang aktif mendukung pembangunan berkelanjutan melalui produk-produk kreatif ramah lingkungan. (humas)