Terobosan Bupati Banyuwangi Meneruskan Potensi Kesenian Daerah

Banyuwangi - Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggelar pentas seni bertajuk “Aksi Potensi Seni” yang diikuti oleh seluruh siswa-siswi tingkat dasar sampai menengah atas se-Kabupaten Banyuwangi. Acara ini diselenggarakan rutin setiap hari di waktu malam. 

Pentas seni malam ini merupakan pertunjukan yang langsung mendapatkan apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Karena, Bupati Banyuwangi, perwakilan kepala dinas daerah kabupaten dan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) secara keseluruhan turut menghadiri gelaran yang menjadi sorotan ratusan warga oseng. 

Tari jejer gandrung tampil sebagai pembuka acara. Dilanjutkan dengan aksi panggung pantomim, tari jaranan, dan berbagai nyanyian lagu-lagu khas daerah Banyuwangi yang ditampilkan langsung oleh para pelajar. Kesemua pertunjukan ini ditampilkan oleh siswa-siswi Gugus II Songgon yang terdiri dari Desa Sragi, Desa Sumber Bulu, dan Sumber Asri. Lengkap dengan SMK PGRI Rogojampi.

Adanya pentas ini menjadi media anak-anak desa untuk menampilkan potensi seni budaya di masing-masing desa di Kabupaten Banyuwangi.

“Kami selaku pemerintah daerah memberikan pangggung bagi anak-anak desa. Untuk menyiapkan penampilan terbaik di Kabupaten. Karena selama ini potensi kesenian mereka tidak tersalurkan dengan sempurna disebabkan minimnya panggung kebudayaan di desa. Bayangkan peserta yang tampil untuk malam ini adalah anak-anak desa yang tinggal di dekat Gunung Raong, Songgon,” Kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat jumpa pers diakhir acara. Senin (13/2) malam. di Pendopo Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pertambangan.

Anas menjelaskan, selain sebagai media penampilan kesenian di desa. Juga dengan adanya ini sebagai alat konsolidasi kebudayaan dan regenerasi budaya kesenian daerah.

“Hal ini kami upayakan bukan hanya untuk mendatangkan wisatawan asing. Karena hakikinya tujuan adanya pariwisata dan senibudaya yang ada di daerah, bagaimana menjadi alat terobosan konsolidasi dan regenerasi budaya kesenian daerah,” tutur Anas.

“Mereka diberikan waktu selama satu minggu untuk latihan sebelum tampil disini. Karena ada beberapa persiapan yang harus dilakukan supaya dapat tampil secara maksimal. Seperti: penyeragaman tarian, penyeragaman busana, dan lain sebagainya. Inilah yang kami maksudkan sebagai alat konsolidasi kebudayaan dan regenerasi. Antara senior dan yuniornya,” sambung Anas.

Dalam kesempatan yang sama Anas menjelaskan beberapa Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam pelaksanaan kegiatan pentas ini yang harus dilakukan.

“Gelaran aksi panggung harus segera diselesaikan tepat pukul 21.00 WIB. Karena para peserta, besoknya harus tetap masuk sekolah di pagi hari sebagaimana mestinya. Juga kami arahkan bagi penari gandrung untuk memakai deker kaos selain busana gandrung,” pungkas Anas.

Adanya SOP tersebut mendapatkan banyak apresiasi dukungan, salah satunya Kepala Bidang Usaha Mikro di Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Banyuwangi Budi Priyambodo.

"Baiknya seperti itu, penampilan kreasi seni tidak meninggalkan kode etik berbusana. Karena ini digunakan sebagai pengaman bagi penari secara langsung barangkali terjadi hal-hal yang tidak di inginkan," pesan Budi saat dikonfirmasi melalui pesan tertulis. (M. Sholeh Kurniawan)

Find Us ( Diskop Usaha Mikro )
Find Us ( Banyuwangi_Mall )